Senin, 29 November 2010

Teori Orang Dewasa
Pendahuluan

Banyak upaya-upaya peningkatan kemampuan konsultan melalui berbagai pelatihan. Pada umumnya mereka adalah "orang dewasa" yang telah mempunyai berbagai pengalaman baik dalam bidang pekerjaannya maupun pengalaman lain dan mempunyai latar belakang yang beragam.

Tentu saja untuk menghadapi peserta pelatihan yang pada umumnya adalah "orang dewasa" dibutuhkan suatu strategi dan pendekatan yang berbeda dengan "pendidikan dan pelatihan" ala bangku sekolah, atau pendidikan tradisional. Pendidikan ala sekolah ini sering disebut dengan pendekatan Pedagogis. Seringkali, dalam praktek banyak "pendekatan pedagogis" diterapkan dalam pendidikan dan pelatihan bagi aparat pemerintah, yang seringkali tidak cocok. Untuk itu, dibutuhkan suatu pendekatan yang lebih cocok dengan "kematangan", "konsep diri" peserta dan "pengalaman peserta". Di dalam dunia pendidikan, strategi dan pendekatan ini dikenal dengan "Pendidikan Orang Dewasa" (Adult Education).
Pengertian
Malcolm Knowles dalam publikasinya yang berjudul "The Adult Learner, A
Neglected Species" mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi orang
dewasa. Sejak saat itulah istilah "Andragogi" makin diperbincangkan oleh
berbagai kalangan khususnya para ahli pendidikan.

Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno "aner", dengan akar kata andr- yang berarti laki-laki, bukan anak laki-laki atau orang dewasa, dan agogos yang berarti membimbing atau membina. Disamping itu, ada istilah lain yang sering dipergunakan sebagai perbandingan adalah "pedagogi", yang ditarik dari kata "paid" artinya anak dan "agogos" artinya membimbing atau memimpin. Maka dengan demikian secara harafiah "pedagogi" berarti seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau mengajar anak.

Karena pengertian pedagogi adalah seni atau pengetahuan membimbing atau mengajar anak maka apabila menggunakan istilah pedagogi untuk kegiatan pelatihan bagi orang dewasa jelas tidak tepat, karena mengandung makna yang bertentangan. Pada awalnya, bahkan hingga sekarang, banyak praktek proses belajar dalam suatu pelatihan yang ditujukan kepada orang dewasa, yang seharusnya bersifat andragogis, dilakukan dengan cara-cara yang pedagogis. Dalam hal ini prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pelatihan bagi orang dewasa.

Dengan demikian maka kalau ditarik pengertiannya sejalan dengan pedagogi, maka andragogi secara harafiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Namun karena orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, maka dala
Read more »

Pendidikan” mempunyai banyak pengertian, tetapi secara umum diterima sebagai suatu perubahan perilaku. Tulisan dimaksudkan bukan untuk menganalisa teori yang ada dibalik Pendidikan Orang Dewasa, melainkan untuk memahami prinsip-prinsip Pendidikan Orang Dewasa (atau yang biasa disingkat POD) yang dapat diterima. Prinsip-prinsip yang disajikan di sini pada dasarnya sama dengan yang dikembangkan pada beberapa pelatihan yang menggunakan metode instruksional, tetapi satu hal yang membedakan adalah prinsip-prinsip POD lebih dikenal secara luas.
Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan training (pelatihan) dan pendidikan, dan biasanya diterapkan pada situasi kelas formal atau untuk sistem on the job training (magang). Tiap bentuk pelatihan sebaiknya memuat sebanyak mungkin 9 prinsip yang tersebut di bawah ini. Supaya kita mudah mengingatnya (9 prinsip tersebut), maka biasanya digunakn sistem jembatan keledai atau istilah asingnya mnemonic, yaitu RAMP 2 FAME.

R = Recency
A = Appropriateness
M = Motivation
P = Primacy
2 = 2 – Way Communication
F = Feedback
A = Active Learning
M = Multi – Sense Learning
E = Excercise

Prinsip-prinsip ini dalam berbagai cara sangat penting, karena memungkinkan Anda (pelatih) untuk menyiapkan satu sessi secara tepat dan memadai, menyajikan sessi secara efektif dan efisien, juga memungkinkan anda melakukan evaluasi untuk sessi tersebut. Mari kita coba lihat ide-ide yang melatarbelakangi istilah RAMP 2 FAME. Penting untuk dicatat bahwa prinsip-prinsip ini tidak disajikan dalam satu urutan. Kedudukannya sama dalam satu kaitan antar hubungan.

R – RECENCY

Hukum dari Recency menunjukkan kepada kita bahwa sesuatu yang dipelajari atau diterima pada saat terakhir adalah yang paling diingat oleh peserta/ partisipan. Ini menunjukkan dua pengetian yang terpisah di dalam pendidikan. Pertama, berkaitan dengan isi (materi) pada akhir sessi dan kedua berkaitan dengan sesuatu yang “segar” dalam ingatan peserta. Pada aplikasi yang pertama, penting bagi pelatih untuk membuat ringkasan (summary) sesering mungkin dan yakin bahwa pesan-pesan kunci/inti selalu ditekankan lagi di akhir sessi. Pada aplikasi kedua, mengindikasikan kepada pelatih untuk membuat rencana kaji ulang (review) per bagian di setiap presentasinya.

Faktor-faktor untuk pertimbangan tentang recency

* Usahakan agar tiap sessi yang diberikan berjangka waktu yang relatif pendek, tidak lebih dari 20 menit (jika itu memungkinkan).
* Jika sessi lebih dari 20 menit, harus sering diringkas (direkap). Sessi yang lebih panjangsebaiknya dibagi-bagi ke dalam sessi-sessi yang lebih pendek dengan beberapa jeda sehingga anda dapat membuat ringkasan.
* Akhir dari tiap sessi merupakan suatu yang penting. Buatlah ringkasan/rekap dari keseluruhan sessi dan beri penekanan pada pesan-pesan atau poin-poin kunci.

Upayakan agar peserta/partisipan tetap “sadar” kemana arah dan perkembangan dari belajar mereka

A : APPROPRIATENES (Kesesuaian)

Hukum dari appropriatenes atau kesesuaian mengatakan kepada kita bahwa secara keseluruhan, baik itu pelatihan, informasi, alat-alat bantu yang dipakai, studi kasus -studi kasus, dan material-material lainnya harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta/partisipan. Peserta akan mudah kehilangan motivasi jika pelatih gagal dalam mengupayakan agar materi relevan dengan kebutuhan mereka. Selain itu, pelatih harus secara terus menerus memberi kesempatan kepada peserta untuk mengetahui bagaimana keterkaitan antara informasi-informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya yang sudah diperolah peserta, sehingga kita dapat menghilangkan kekhawatiran tentang sesuatu yang masih samar atau tidak diketahui.

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan mengenai appropriatness :

* Pelatih harus secara jelas mengidentifikasi satu kebutuhan bagi peserta agar mengambil bagian dalam pelatihan. Dengan kebutuhan yang teridentifikasi, pelatih harus yakin bahwa sehala sesuatu yang berhubungan dengan sessi sesuai dengan kebutuhan tersebut.
* Gunakan deskripsi, contoh-contoh atau ilustrasi-ilustrasi yang akrab (familiar) dengan peserta.

M: MOTIVATION (motivasi)

Hukum dari motivasi mengatakan kepada kita bahwa pastisipan/peserta harus punya keinginan untuk belajar, dia harus siap untuk belajar, dan harus punya alasan untuk belajar. Pelatih menemukan bahwa jika peserta mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar atau rasa keinginan untuk berhasil, dia akan lebih baik dibanding yang lainnya dalam belajar. Pertama-tama karena motivasi dapat menciptakan lingkungan (atmosphere) belajar menjadi menye-nangkan. Jika kita gagal menggunakan hukum kesesuaian (appropriateness) tersebut dan mengabaikan untuk membuat material relevan, kita akan secara pasti akan kehilangan motivasi peserta.

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan mengenai motivasi:

* Material harus bermakna dan berharga bagi peserta, tidak hanya bagi pelatih
* Yang harus termotivasi bukan hanya peserta tetapi juga pelatih itu sendiri. Sebab jika pelatih tidak termotivasi, pelatihan mungkin akan tidak menarik dan bahkan tidak mencapai tujuan yang diinginkan.
* Seperti yang disebutkan dalam hukum kesesuaian (appropriateness), pelatih suatu ketika perlu mengidentifikasi satu kebutuhan kenapa peserta datang ke pelatihan. Pelatih biasanya dapat menciptakan motivasi dengan mengatakan bahwa sessi ini dapat memenuhi kebutuhan peserta.
* Bergeraklah dari sisi tahu ke tidak tahu. Awali sessi dengan hal-hal atau poin-poin yang sudah akrab atau familiar bagi peserta. Secara perlahan-lahan bangun dan hubungkan poin-poin bersama sehingga setiap tahu kemana arah mereka di dalam proses pelatihan.

P : PRIMACY (Menarik Perhatian di awal sessi)

Hukum dari primacy mengatakan kepada kita bahwa hal-hal yang pertama bagi peserta biasanya dipelajari dengan baik, demikian pula dengan kesan pertama atau serangkaian informasi yang diperoleh dari pelatih betul-betul sangat penting. Untuk alasan ini, ada praktek yang bagus yaitu dengan memasukkan seluruh poin-poin kunci pada permulaan sessi. Selama sessi berjalan, poin-poin kunci berkembang dan juga informasi-informasi lain yang berkaitan. Hal yang termasuk dalam hukum primacy adalah fakta bahwa pada saat peserta ditunjukkan bagaimana cara mengerjakan sesuatu, mereka harus ditunjukkan cara yang benar di awalnya. Alasan untuk ini adalah bahwa kadang-kadang sangat sulit untuk “tidak mengajari” peserta pada saat mereka membuat kesalahan di permulaan latihan.

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan mengenai primacy:

* Sekali lagi, upayakan sessi-sessi diberikan dalam jangka waktu yang relatif singkat. Sebaiknya sekitar 20 menit seperti yang disarankan dalam hukum recency.
* Permulaan sessi anda akan sangat penting. Seperti yang anda ketahui bahwa sebagian banyak peserta akan mendengarkan, dan oleh karena itu buatlah semenarik mungkin dan beri muatan informasi-informasi penting ke dalamnya.
* Usahakan agar peserta selalu “sadar” arah dan perkembangan dari belajarnya.
* Yakinkan peserta akan memperoleh hal-hal yang tepat pada saat anda pertama kali meminta mereka melakukan sesuatu

2 : 2- WAY COMMUNICATION (Komunikasi 2 arah)

Hukum dari 2-way-communication atau komunikasi 2 arah secara jelas menekankan bahwa proses pelatihan meliputi komunikasi dengan peserta, bukan pada mereka. Berbagai bentuk penyajian sebaiknya menggunakan prinsip komunikasi 2 arah atau timbal balik. Ini tidak harus bermakna bahwa seluruh sessi harus berbentuk diskusi, tetapi yang memungkinkan terjadinya interaksi di antara pelatih/fasilitator dan peserta/partisipan.

Faktor-faktor untuk pertimbangan mengenai 2-way communication:

* Bahasa tubuh anda juga berkaitan dengan komunikasi 2 arah: anda harus merasa yakin bahwa itu tidak bertentangan dengan apa yang anda katakan.
* Rencana sessi anda sebaiknya memiliki interaksi dengan siapa itu dirancang, yaitu tak lain adalah peserta.

F: FEEDBACK (Umpan Balik)

Hukum dari feedback atau umpan balik menunjukkan kepada kita, baik fasilitator dan peserta membutuhkan informasi satu sama lain. Fasilitator perlu mengetahui bahwa peserta mengikuti dan tetap menaruh perhatian pada apa yang disampaikan, dan sebaliknya peserta juga membutuhkan umpan balik sesuai dengan penampilan/kinerja mereka.

Penguatan juga membutuhkan umpan balik. Jika kita menghargai peserta (penguatan yang positif) untuk melakukan hal-hal yang tepat, kita mempunyai kesempatan yang jauh lebih besar agar mereka mengubah perilakunya seperti yang kita kehendaki. Waspada juga bahwa terlalu banyak penguatan negatif mungkin akan menjauhkan kita memperoleh respon yang kita harapakan.

Faktor-faktor untuk pertimbangan mengenai feedback:

* Peserta harus diuji (dites) secara berkala untuk umpan balik bagi fasilitator
* Pada saat peserta dites, mereka harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka sesegera mungkin.
* Tes bisa juga meliputi pertanyaan-pertanyaan yang diberikan fasilitator secara berkala mengenai kondisi kelompok
* Semua umpan balik tidak harus berupa yang positif, seperti yang dipercaya banyak orang. Umpan balik positif hanya setengah dari itu dan hampir tidak bermanfaat tanpa adanya umpan balik negatif
* Pada saat peserta berbuat atau berkata benar (misal menjawab pertanyaan), sebut atau umumkan itu (di hadapan kelompok/peserta lain jika itu mungkin).
* Persiapkan penyajian anda sehingga ada penguatan positif yang terbangun di awal sessi.
* Perhatikan betul-betul peserta yang memberi umpan balik positif (berbuat betul) sama halnya kepada mereka yang memberi umpan balik negatif (melakukan kesalahan).

A : ACTIVE LEARNING (Belajar Aktif)

Hukum dari active learning menunjukkan kepada kita bahwa peserta belajar lebih giat jika mereka secara aktif terlibat dalam proses pelatihan. Ingatkah satu peribahasa yang mengatakan “Belajar Sambil Bekerja” ? Ini penting dalam pelatihan orang dewasa. Jika anda ingin memerintahkan kepada peserta agar menulis laporan, jangan hanya memberitahu mereka bagaimana itu harus dibuat tetapi berikan kesempatan agar mereka melakukannya. Keuntungan lain dari ini adalah orang dewasa umumnya tidak terbiasa duduk seharian penuh di ruangan kelas, oleh karena itu prinsip belajar aktif ini akan membantu mereka supaya tidak jenuh.

Faktor-faktor untuk pertimbangan mengenai active learning:

* Gunakan latihan-latihan atau praktek selama memberikan instruksi
* Gunakan banyak pertanyaan selama memberikan instruksi
* Sebuah kuis cepat dapat digunakan supaya peserta tetap aktif
* Jika memungkinkan, biarkan peserta melakukan apa yang ada dalam instruksi

Jika peserta dibiarkan duduk dalam jangka waktu lama tanpa berpartisipasi atau diberi pertanyaan-pertanyaan, kemungkinan mereka akan mengantuk /kehilangan perhatian.

M : MULTIPLE -SENSE LEARNING

Hukum dari multi- sense learning mengatakan bahwa belajar akan jauh lebih efektif jika partisipan menggunakan lebih dari satu dari kelima inderanya. Jika anda memberitahu trainee mengenai satu tipe baru sandwich mereka mungkin akan mengingatnya. Jika anda membiarkan mereka menyentuh, mencium dan merasakannya dengan baik, tak ada jalan bagi mereka untuk melupakannya.
Faktor-faktor untuk pertimbangan mengenai multiple-sense learning:

* Jika anda memberitah/mengatakan sesuatu kepada peserta, cobalah untuk menunjukkannya dengan baik
* Gunakan sebanyak mungkin indera peserta jika itu perlu sebagai sarana belajar mereka, tetapi jangan sampai lupa sasaran yang ingin dicapai
* Ketika menggunakan multiple-sense learning, anda harus yakin bahwa tidak sulit bagi kelompok untuk mendengarnyaa, melihat dan menyentuh apapun yang anda inginkan.

Saya dengar dan saya lupa
Saya lihat dan saya ingat
Saya lakukan dan saya paham
(Confusius, 450 SM)

E. EXERCISE (Latihan)

Hukum dari latihan mengindikasikan bahwa sesuatu yang diulang-ulang adalah yang paling diingat. Dengan membuat peserta melakukan latihan atau mengulang informasi yang diberikan, kita dapat meningkatkan kemungkinan mereka semakin mampu mengingat informasi yang sudah diberikan. Yang terbaik adalah jika pelatih menambah latihan atau mengulangi pelajaran dengan mengulang informasi dalam berbagai cara yang berbeda. Mungkin pelatih dapat membicarakan mengenai suatu proses baru, lalu menunjukkan diagram/overhead, menunjukkan produk yang sudah jadi dan akhirnya minta kepada peserta untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Latihan juga menyangkut intensitas. Hukum dari latihan juga mengacu pada pengulangan yang berarti atau belajar ulang.

Faktor-faktor untuk pertimbangan dalam exercise:

* Semakin sering trainee mengulang sesuatu, semakin mereka mengingat informasi yang diberikan
* Dengan memberikan pertanyaan berulang-ulang kita meningkatkan latihan
* Peserta harus mengulang latihannya sendiri, tetapi mencatat tidak termasuk di dalamnya
* Ringkaslah sesering mungkin karena ini bentuk lain dari latihan. Buatlah selalu ringkasan saat menyimpulkan sessi
* Buat peserta selalu ingat secara berkala apa yang telah sidajikan sedemikian jauh dalam presentasi
* Sering disebutkan bahwa tanpa beberapa bentuk latihan, peserta akan melupakan 1/4 dari yang mereka pelajari dalam 6 jam, 1/3 dalam 24 jam, dan sekitar 9 % dalam 6 minggu.

Kesimpulan

Prinsip-prinsip dari belajar berkaitan kepada pelatihan dan pendidikan. Prinsip-prinsip tersebut digunakan di seluruh sektor/area, baik dalam ruang kelas atau sistem magang. Prinsip-prinsip ini dapat digunakan kepada anak-anak dan remaja sebaik kepada orang dewasa. Instruksi yang efektif harus menggunakan sebanyak mungkin prinsip-prinsip ini, jika tidak keseluruhan-nya. Pada saat anda merencanakan satu sessi, lihat keseluruhan draft untuk meyakinkan bahwa prinsip-prinsip telah digunakan dan jika tidak, mungkin perlu suatu revisi (perbaikan).

Sumber : Diambil dari Bahan TOT Pemberdayaan Komite Sekolah. 2006
Read more »

Senin, 04 Oktober 2010

the secret

Hidup sukses adalah buah dari kerja keras, perencanaan hidup yang matang serta kadang ada faktor keberuntungan yang ada dalam diri seseorang. Banyak sekali cara untuk meraih sukses yang tentunya setiap orang memiliki keyakinan dan cara yang berbeda. Beberapa hal yang mungkin dapat dijadikan pedoman untuk meraih hidup yang mantap penuh kesuksesan adalah :

1. Rencanakan hidup sehat secara optimal
2. Jalin komunikasi yang baik dengan sesama
3. Berusaha menyesuaikan diri dengan pekerjaan
4. Jangan berhenti belajar selama hidup
5. Selalu meningkatkan semangat hidup
6. Kreatif dan inovatif
7. Tanamkan prinsip dan tujuan hidup tertentu
8. Ciptakan kehidupan yang harmonis
9. Mampu mengendalikan diri dan
10. Rubahlah dunia menjadi lebih baik.

Itulah beberapa hal yang mungkin dapat menjadi referensi kiat mencapai kesuksesan dalam hidup. Mungkin dari seorang individu telah melakukan beberapa poin dari hal tersebut. Namun alangkah baiknya apabila seluruh poin dapat kita laksanakan agar hidup semakin mantap dan seimbang.


Dalam menjalani hidup yang penuh dengan segala tantangan untuk selalu bekerja keras, ada suatu hal yang sering dijadikan pengganggu utama dalam meraih sukses. Ya, malas adalah hal terburuk yang akan bisa menganggu segala aktifitas positif dari seorang individu. Rasa malas adalah penyakit mental keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya dia lakukan. Apabila rasa malas ini muncul dalam aktivitas sehari-hari, maka dijamin kinerja kita akan jauh menurun. Masyarakat yang dipenuhi oleh individu-individu yang malas jelas tidak akan pernah maju. Rasa malas juga menggambarkan hilangnya motivasi seseorang untuk melakukan pekerjaan atau apa yang sesungguhnya dia inginkan. Sebenarnya ada beberapa hal yang dapat dilakukan seseorang untuk menghilangkan rasa malas tersebut, yaitu :

1. Buatlah tujuan dan resolusi hidup
2. Mengasah kemampuan diri
3. Hindari bergaul dengan sesama pemalas
4. kembangkan disiplin diri.

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang dapat mengurangi rasa malas kita terhadap pekerjaan. Namun perlu kita ketahui, bahwa pada dasarnya rasa malas hanyalah sikap menunda bahkan menghindari suatu pekerjaan. Janganlah terpuruk dalam dunia malas karena hal itu akan menjauhkan diri dari kesuksesan.


Rupanya selain kerja keras dan mengindari rasa malas, kesehatan fisik juga harus diperhatikan dalam meraih kesuksesan. Tidak dapat dipungkiri bahwa tubuh sehat merupakan modal terpenting dalam melakukan segala aktifitas hidup. Sekalipun kita memiliki prinsip dan tujuan jangka panjang yang terstruktur namun apabila kesehatan fisik terganggu maka segala rencana yang telah dibuat tidak akan bisa terlaksana. Banyak orang bilang bahwa sehat sangatlah mahal harganya. Ungkapan tersebut bisa terbukti kebenarannya dari salah satu contoh kecil yang kadang tidak kita sadari. Seorang individu yang sakit asma memerlukan tabung oksigen untuk membantu bernafas, tentunya dengan mengeluarkan biaya. Namun bagi insan yang sehat dapat begitu mudah menghirup udara bebas sesuka hati tanpa harus mengeluarkan biaya. Oleh karena itu hal yang perlu diingat bahwa kita harus selalu menjaga kesehatan dan merawat tubuh sebagai ungkapan rasa syukur kita terhadap rahmat Tuhan karena kita dilahirkan di dunia dalam wujud makhluk hidup yang paling sempurna.


Itulah beberapa hal yang perlu diketahui dalam mencapai kesuksesan dan menciptakan kehidupan yang lebih mantap. Kerja keras, menghilangkan rasa malas serta senantiasa menjaga kesehatan tubuh adalah modal utama untuk meningkatkan kualitas diri dan kinerja pribadi agar dapat meraih segala harapan masa depan. Marilah mulai sekarang kita menyeimbangkan diri dengan lingkungan agar senantiasa tercipta kehidupan yang harmonis, bahagia serta dapat meraih kesuksesan dalam hidup
Read more »

Kamis, 03 Juni 2010

hari bumi

LEMBAH DANAU-DANAU, KOMPAS.com — Tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia dari Wanadri akan memperingati Hari Bumi di kawasan Puncak Nggapulu, Pegunungan Jayawijaya, Papua, di ketinggian 4.700 meter di atas permukaan laut pada Kamis ini. Peringatan ini ditujukan untuk memberikan kesadaran masyarakat luas akan ancaman pemanasan global.

Peringatan Hari Bumi yang diawali dengan upacara akan dilaksanakan di sekitar batas es (lidah es) kawasan Puncak Nggapulu. Lokasi itu dipilih untuk menunjukkan menyusutnya batas es di kawasan itu setiap tahun akibat pemanasan global.

Saat ini, bentangan es di Puncak Nggapulu hanya sekitar 1,5 kilometer dari puncak. Padahal, menurut pengakuan para pendaki dari Wanadri yang mengunjungi kawasan itu tahun 2004, bentangan es saat itu masih berjarak 2 kilometer dari puncak.

”Dengan memperlihatkan dampak langsung pemanasan global, kami harapkan masyarakat Indonesia, termasuk para pemimpin, mau berbuat sesuatu untuk Bumi ini,” kata Ketua Harian Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Yoppie Rikson kepada wartawan Kompas Harry Susilo, yang ikut dalam tim ekspedisi itu di Tim Bravo di Lembah Danau-Danau, Jayawijaya, Papua, Rabu (21/4/2010).

Upacara akan diikuti sekitar 23 anggota ekspedisi, baik dari tim inti (Alfa) dan tim pendukung (Bravo), termasuk mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Erry Riyana Hardjapamekas dan aktivis lingkungan Iwan Abdulrachman.

Selain upacara, tim ekspedisi juga akan melakukan operasi bersih gunung atau mengumpulkan sampah yang berada di sekitar kawasan Puncak Nggapulu hingga ke Lembah Danau-Danau yang berada di ketinggian 4.250 meter di atas permukaan laut.

Berlatih

Sebelum peringatan Hari Bumi, tim inti ekspedisi yang berjumlah enam orang telah berada di Puncak Nggapulu, Rabu malam. Mereka berlatih menghadapi suhu dingin dan rendahnya oksigen dengan menginap di atas es.

Pelatih tim ekspedisi, Djukardi Adriana, mengatakan, latihan tidur dengan tenda di atas es bertujuan agar tim terbiasa dengan medan dan suhu ekstrem. Kondisi itu umumnya akan mereka hadapi saat mendaki puncak gunung tertinggi lainnya, seperti Mckinley (Alaska, Amerika Serikat), Aconcagua (Argentina), Vinson Massif (Antartika), dan Everest (Nepal/China). Tim belum mengalami kondisi itu ketika mencapai Carstensz Pyramid (Ndugu-Ndugu), Minggu (18/4/2010).

”Saya deg-degan karena belum pernah menginap di atas es. Pasti dingin sekali,” kata Nurhuda, anggota tim inti ekspedisi.

Adapun Tim Bravo akan menyusul ke kawasan Puncak Nggapulu pada Kamis pagi untuk bergabung bersama tim inti memperingati Hari Bumi. (ILO)Tabel1
Jumlah Penganggur Berdasarkan tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin
Di Kabupaten Sleman tahun 2007-2009

No Tingkat Pendidikan Jumlah Pengagngguran/tahun
2007 2008 2009
L P L P L P
1 SD 4.791 4.188 4.532 4.193 4.648 4.492
2 SMP 6.246 5.076 4.941 4.345 4.223 3.864
3 SMA 12.694 8.900 10.867 8.533 9.306 7.436
4 Diploma 1.045 870 1.390 1.216 1.547
5 S1, S2 1.540 1.097 1.816 1.436 2.008
Jumlah 26.316 20.131 23.546 19.723 21.732 19.025
Read more »

 
Powered by Blogger